Cari Blog Ini

Memuat...

Rabu, 21 Maret 2012

LASKAR HIZBULLAH ANTARA JIHAD DAN NASIONALISME MEMPERTAHANKAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945-1949.



A.    LATAR BELAKANG SOSIAL POLITIK
A.1. Keadaan lingkungan Daerah Ciranjang
A.1.1. Lingkungan fisik
Kecamatan Ciranjang merupakan salah satu kecamatan yang merupakan bagian dari kabupaten Cianjur yang terletak di kawasan Jawa Barat bagian Tengah. Daerah itu dibatasi sebelah Barat Kecamatan Sukaluyu; sebelah Utara Kecamatan Mande; sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Bojongpicung; sebelah selatan dibatasi oleh kecamatan Bojong Picung.
Menurut ketinggian dari permukaan laut, daerah Ciranjang sebagian besar terdiri dari bukit-bukit dan persawahan. Sawah-sawah di dataran rendah Ciranjang sangat subur sehingga di kawasan ini terdapat konsentrasi penduduk yang sangat tinggi. Hal inilah yang menyebabkan di sepanjang Ciranjang terdapat deretan-deretan desa yang panjang dan tidak putus-putusnya.

A.2. Pelapisan Masyarakat
A.2.1. Elite formal
Soejono Soekanto, 1983 menjelaskan bahwa pelapisan masyarakat adalah sistem hierarki kelompok di dalam suatu masyarakat. Hal senada dikemukakan pula oleh Pitirim A. Sorokin (dalam Soejono Soekanto, 1982) bahwa pelapisan masyarakat adalah pembedaan penduduk atau masyarakat dalam kelas-kelas secara bertingkat (hierarkis). Terlebih lagi Max Weber berpendapat tentang adanya dimensi-dimensi pelapisan masyarakat, yakni dimensi ekonomis, social, dan politis.
Dalam setiap tertib warga masyarakat terbagi dalam kelas-kelas (ekonomis), kelompok status (sosial), dan partai-partai politik (politik). Hubungan ketiganya bersifat timbal balik. (Soejono Soekanto, 1984).
Dalam kaitan dengan penelaahan kondisi sosial ekonomi, kita harus menyelidiki sistem status dalam masyarakat Ciranjang. Kita harus mengetahui bagaimana sistem pelapisan masyarakat di Ciranjang pada masa tradisional dan perubahan-perubahannya di masa revolusi fisik.
Selain itu, juga harus mengidentifikasi kelas sosial atau golongan status yang dicap sebagai “Laskar”. Juga harus mengetahui apakah ada mobilitas sosial, dan apabila ada sejauh manakah hal itu membantu ke arah terjadinya perlawanan Laskar Hizbullah kepada sekutu yang diboncengi oleh Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
Mengingat corak perlawanan Laskar Hizbullah di dalamnya masih terdapat unsur-unsur bapakisme yang terbilang cukup besar pada masa perang kemerdekaan, maka sebaiknya lebih mengarahkan perhatian pada kelompok-kelompok yang berpengaruh dalam masyarakat. Yang penulis maksud adalah sistem pelapisan masyarakat yang membagi masyarakat menjadi dua strata umum, sebagaimana yang diaungkapkan oleh Pareto, (Sartono Kartodirjo, 1984) yakni:
1.      lapisan yang lebih rendah, yang bukan elite, atau rakyat biasa
2.      lapisan yang lebih tinggi yang disebut elite
Golongan elite yang dimaksud di sini adalah golongan yang terkemuka dalam suatu masyarakat. Atau dapat juga disebut bahwa golongan elite merupakan suatu kelompok atau golongan yang mempunyai peran penting atau berkuasa dalam suatu masyarakat. Golongan elite sebagai minoritas namun menguasai rakyat biasa (nonelite) yang mayoritas. Sehingga pendapat-pendapat, keputusan-keputusan, dan tindakan-tindakan kelompok elite mempunyai akibat penting dalam menentukan kehidupan warga suatu masyarakat.
Elite formal adalah golongan yang diangkat oleh pemerintah Republik Indonesia (RI) secara resmi untuk memangku jabatan dalam struktur organisasi pemerintahan tertentu dengan segala hak dan kewajiban yang telah ditetapkan.
Dengan demikian dapat pula dikatakan kelompok elite ini memegang kepemimpinan yang legal-rasional (Sartono Kartodirjo, 1982). Berbeda dari masa kolonial, maka para pemimpin fomal ini pada masa revolusi, kecuali pamong desa, dijadikan pegawai pemerintah dengan diberikan gaji. Hal inilah yang menjadikan para elite formal jauh dari masyarakat (nonelite).
Padahal kita ketahui situasi perang kemerdekaan tidak banyak memaksa nonelite untuk berhubungan dengan kelompok elite formal, tetapi mereka lebih banyak berhubungan dengan elite nonformal yang memang sangat dibutuhkan dalam situasi semacam itu, yaitu dapat memberikan perlindungan secara praktis dan langsung bila dibandingkan dengan elite formal yang lebih banyak bicara soal politik, perundingan, dan keterikatan dengan hal-hal formal lainnya. Termasuk perlawanan Laskar Hizbullah Ciranjang dikomandani oleh tokoh yang berasal dari elite nonformal. Selain diakibatkan para pemimpin formal sebelum kemerdekaan merupakan kepanjangan tangan dari penjajah. Secara umum yang termasuk ke dalam elite formal pada masa revolusi fisik di Ciranjang adalah para birokrat dan golongan tentara pemerintah yang sekarang lazim disebut Tentara Nasional Indonesia (TNI). Walaupun semua itu tidak dapat digeneralkan.

A.2.1. Elite Non formal
Yang dimaksud elite nonformal adalah golongan elite yang keberadaannya bukan karena mendapat pengangkatan dan restu secara formal dari pemerintah RI, melainkan karena memiliki kualitas yang unggul dalam pandangan masyarakat. Baik ditokohkan karena pemahaman akan agama, status sosial, dan ekonominya.
Golongan ini dapat memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi psikis dan prilaku kelompok masyarakat. Kedudukan elite nonformal cukup penting terutama dalam kehidupan masyarakat desa. Bahkan kadang-kadang pengaruhnya lebih kuat bila dibandingkan dengan elite formal.
Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat diakui sebagai elite nonformal antara lain keturunan, kekayaan, pendidikan, pengalaman, keberanian, karisma (Sartono Kartodirjo, 1982). Yang dapat dikatagorikan sebagai elite nonformal di Ciranjang semasa revolusi fisik adalah:
a)     Para kiai dan haji di Ciranjang biasanya mempunyai pondok pesantren, tanah yang luas, dan usaha yang maju.
b)     Pimpinan laskar/badan perjuangan di luar TNI;
c)     Golongan bangsawan/raden yang merupakan keturunan dari kerajaan-kerajaan yang berada di priangan. Dilain sisi mereka dapat masuk ke dalam lapisan elit formal dan juga elit nonformal.
Pembahasan mengenai munculnya organisasi militer baik yang didirikan oleh pemerintah atau TNI maupun laskar-laskar atau badan-badan perjuangan dari kelompok ataupun organisasi tertentu di masa revolusi sangat menarik perhatian. Dapat dikatakan masa revolusi fisik di Ciranjang merupakan booming-period baik bagi munculnya organisasi-organisasi bersenjata, yang satu diantaranya adalah Laskar Hizbullah.
Laskar Hizbullah merupakan alat perlawanan dari golongan elite agama Islam nonformal, yang lahir dari rahim tubuh kaum sarekat Islam Ciranjang.

A.4. Keresahan sosial
Berita telah diproklamasikannya Kemerdekaan Indonesia itu tidak serta merta diterima oleh masyarakat Ciranjang pada hari Jum’at 17 Agustus 1945, walaupun pada waktu itu telah disebarluaskan dengan menggunakan media komunikasi massa yang telah ada pada waktu itu, tetapi media komunikasi massa pada waktu itu masih sederhana dan terbatas, di samping itu juga karena adanya sensor Jepang yang sangat ketat. Demikian juga yang terjadi di Ciranjang, adanya kepastian bahwa Kemerdekaan Indonesia telah di proklamasikan diterima pada keesokan harinya, yaitu hari Sabtu tanggal 18 Agustus 1945.
Dengan adanya berita itu, bergembiralah masyarakat Ciranjang terutama kaum pergerakan Nasional Sarekat Islam (SI) Ciranjang, maka pimpinan-pimpinan Sarekat Islam Ciranjang terus mengadakan rapat-rapat non stop di rumah Haji Maksudi/Ibu Syarifah di Curug, sekarang Jl. Raya Bandung No. 80 atau di rumah Mohammad Ali di komplek BPPI.
Kemudian mereka juga terus mengadakan pertemuan-pertemuan dengan pemerintah Kawedanaan Ciranjang, pertemuan itu dimaksudkan untuk segera mengambil sikap menyambut Proklamasi Kemerdekaan, dan mengumumkannya kepada rakyat, sebab rakyatpun sudah banyak yang tahu dari mulut-kemulut, terutama para pemudanya yang sudah mulai berkelompok dengan menyandang golok dan bambu runcing, yang pada waktu itu sudah dikoordinasikan oleh Mohammad Ali. Dimana Mohammad Ali waktu itu secara informal masih menjabat Chudanco Keisyat (Komandan Kompi) Suishintai Kewadanaan Ciranjang.
Pembahasan tentang keresahan sosial di sini tidak lebih dimaksudkan untuk menghubungkannya sebagai penyebab langsung perlawanan Laskar Hizbullah terhadap penjajah. Ada beberapa alasan yang mendasarinya. Pertama, dalam perjalanan sejarah Ciranjang baik pada masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan banyak diwarnai keresahan sosial yang termanifestasikan menjadi berbagai aksi.
Salah satu bentuk keresahan sosial yang terjadi di kewadanaan Ciranjang, adalah aksi massa dalam melucuti kekuatan tentara Jepang, menurunkan para pangreh praja yang selama penjajahan terjadi, menjadi kepanjangan tangan mereka, menduduki tempat-tempat yang menjadi sarana vital penjajah, dan mengambil alih perekonomian dari monopoli pihak Tionghoa.
Sampai dengan awal September, kekuasaan sipil masih penuh di tangan Jepang, walaupun sudah tampak gejala-gejala pembangkangan di kalangan pegawai-pegawai Indonesia yang bekerja di kantor-kantor Jepang. Penduduk umumnya sudah berani dengan terang-terangan menentang penguasa Jepang, dengan menurunkan bendera Hinomaru untuk digantikan dengan Merah-Putih di mana-mana, serta memekikkan kata “Merdeka” tanpa merasa takut.
Keresahan sosial yang dimaksud di sini, jangan diartikan dengan mobilisasi massa yang banyak dan selalu disertai dengan tindakkan anarkis. Tetapi lebih diartikan sebagai akumulasi dari tekanan yang dialami oleh masyarakat Kecamatan Ciranjang secara khusus dan bangsa Indonesia secara umum. Sebagai akibat dari penjajahan bangsa asing, dalam hal ini Belanda dan Jepang yang berlangsung dalam waktu yang relatif lama.

B.     LATAR BELAKANG KEAGAMAAN
Pada bagian ini akan diketengahkan latar belakang keagamaan perlawanan Laskar Hizbullah di Ciranjang. Berhubungan dengan hal itu, pertama-tama harus diakui perlawanan dari Laskar Hizbullah dapat dikatagorikan sebagai perlawanan yang dodorong oleh faktor keagamaan. Meskipun demikian, kurang tepat jika perlawanan Laskar Hizbullah dibicarakan semata-mata sebagai gerakan agama, Islam, karena aspek-aspek atau kondisi-kondisi lain pun penting.
Walaupun demikian, pembicaraan khusus mengenai kondisi-kondisi lain yang turut menimbulkan perlawanan itu, bukanlah dimaksudkan untuk mengemukakan bahwa Islam tidak memainkan peran penting sebagai tenaga penggerak bagi Laskar Hizbullah. Semangat-semangat yang berbau Islam jelas mewarnai perlawanan Laskar Hizbullah Batalyon III, Resimen IV, Divisi I Jakarta terhadap sekutu yang diboncengi NICA. Karena itu, latar belakang keagamaan Laskar Hizbullah sangat penting untuk dibahas.

B.1. Kondisi Keagamaan di Ciranjang
      Meskipun tidak ada data yang detail mengenai jumlah penganut berbagai macam agama secara terperinci di Ciranjang, terdapat sumber yang menyatakan sebagian besar penduduk di Kecamatan Ciranjang adalah penganut agama Islam yang cukup kuat, hanya terdapat komunitas kecil  kristen yang terkonsentrasikan di desa Sindang Jaya atau lebih dikenal dengan sebutan Palalangon.
Kentalnya masyarakat Kawedanaan / Kecamatan Ciranjang terhadap agama Islam, dapat dilihat dari banyaknya pesantren-pesantren tradisional yang tersebar hampir di setiap desa. Terlebih lagi dapat dilihat pula dari banyaknya masyarakat Ciranjang yang masuk secara organisasi ke dalam Sarekat Islam (SI). Dimana kegiatan-kegiatan keagamaan di Ciranjang hampir sebagian besar dilaksanakan oleh Sarekat Islam Ciranjang.

B.2. Peranan Elite Agama Islam
      Elite agama atau tokoh agama Islam di Ciranjang memiliki andil yang cukup besar dalam membangkitkan semangat perjuangan sebagian besar masyarakatnya. Terlebih masyarakat yang memiliki cita-cita untuk memperjuangkan Islam sebagai aturan hidup dalam setiap aspek kehidupan. Peranan dari elit agama Islam ini, dimanifestasikan dan dilembagakan dalam bentuk partai. Sarekat Islam (SI), yang lebih dikenal sebagai kaum pergerakan nasional Islam pertama di Indonesia, umumnya di kecamatan Ciranjang.
Peranan dari para elit agama Islam ini, dikemas dalam berbagai bentuk kegiatan yang diselenggarakan oleh Sarekat Islam. Salah satu diantaranya adalah dengan mengadakan pendidikan kilat bagi para pemuda Islam Ciranjang. Pendidikan kilat tersebut memiliki tujuan untuk menumbuhkan semangat pemuda dalam memperjuangkan kebebasan bangsanya dari cengkeraman tangan penjajah. Hal ini sesuai dengan tujuan dari didirikannya partai Sarekat Islam. Yakni, membebaskan bangsa Indonesia dari segala bentuk penjajahan asing dan menegakan syariat Islam.
Lebih jauh lagi, peranan dari elit agama Islam di ciranjang yang salah satu bentuk kegiatannya, latihan kilat. Memiliki tujuan untuk mendidik kader-kader yang memiliki semangat kebangsaan, nasionalisme, dan militan. Yang dimana mereka akan menggerakan rakyat di desanya masing-masing. Latihan kilat yang terselenggara atas kerjasama antara komite nasional Indonesia (KNI) dengan partai sarekat Islam kecamatan Ciranjang.
Tokoh-tokoh agama Islam tersebut antara lain, Mohammad Basyir, Mohammad Ali, Haji Djaenoedin, Dam Rosyadi, Abdullah Zahid, dan Roekma. (Tahkimula B. Arifin, 1998).
Selain yang telah diuraikan diatas, elit agama Islam pun memiliki peranan lainnya, yang inti dari peranan mereka tersebut adalah memobilisasi masyarakat untuk dapat bangkit dan berjuang melawan para penjajah, serta mengisi kemerdekaan Indonesia.

B.3. Gerakan Jihad
Jihad atau holy war adalah perang membela agama Islam yang merupakan kewajiban setiap Muslim. Mereka yang gugur dalam rangka jihad di jalan Allah (jihad fiesabilillah) dikatakan sebagai mati syahid dan akan masuk surga.
Perlawanan Laskar Hizbullah terhadap sekutu yang diboncengi NICA berkaitan erat dengan kesadaran yang kuat dikalangan para laskarnya bahwa mereka harus benar-benar melenyapkan campur tangan orang-orang kafir dari negara Indonesia, baik orang-orang Belanda, pengkhianat yang atheis komunis, para antek-antek Belanda maupun orang-orang yang bekerja sama atau membantu mereka. Hal senada dikuatkan dengan pernyataan salah seorang mantan Laskar Hizbullah.
Melihat tujuan Laskar Hizbullah yang tertulis dalam banyak sumber memang dapat difahami dengan jelas, yakni bertujuan untuk mempertahankan Kemerdekaan Republik Indonesia dari upaya Belanda yang ingin kembali menancapkan kekuasaannya di Indonesia, yang dimotivasi oleh dorongan keyakinan akan agama Islam. Sebagaimana diungkapkan oleh Pak Omek, sebagai berikut: (Wawancara dengan Pak Omek, 2006)
Kami dulu para Laskar Hizbullah berjuang hanya semata-mata bertujuan untuk membebaskan bangsa ini dari penjajahan. Meskipun kami tidak memiliki persenjataan yang seimbang dengan pihak Tentara Sekutu yang diboncengi oleh NICA (Belanda). Semangat yang sangat kuat dalam mendorong Laskar Hizbullah Batalyon III, Resimen IV, Divisi I Jakarta. Dan termasuk bapak (Pak Omek) dikarenakan seruan Jihad yang diajarkan oleh Islam, dengan konsekwensi mempertahankan kemerdekaan atau syahid.

Namun yang jelas bahwa semangat untuk memperjuangkan agar aturan-aturan Islam berjalan dalam masyarakat atau minimal hukum yang berlaku dalam masyarakat tidak bertentangan dengan Islam, selalu ada dalam jiwa para anggota Laskar Hizbullah Ciranjang. Keinginan tersebut salah satu faktor pendorongnya, dikarenakan Laskar Hizbullah lahir dan didirikan oleh para tokoh pejuang Sarekat Islam (SI) yang memiliki keinginan untuk memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia.
Mereka yang dianggap merusak tatanan masyarakat yang telah dibangun, terlebih merusak hukum-hukum Islam, bukan hanya musuh-musuh Laskar Hizbullah tetapi juga musuh Allah. Mereka dianggap sebagai “orang yang tidak percaya” atau kafir.
Oleh sebab itu, bekerja sama dengan mereka merupakan sesuatu yang haram, karena mereka selamanya adalah penipu. Oleh karena orang-orang semacam itu dianggap musuh Allah maka usaha menaklukan atau kalau perlu membasmi mereka dengan senjata merupakan kewajiban suci sebagai Perang Sabil atau Jihad.
Dalam hal ini sangatlah mudah dipahami mengapa Laskar Hizbullah tidak pernah menerima dan melaksanakan, serta mengakui hasil-hasil perundingan dengan Belanda selama perang kemerdekaan mulai perundingan Linggarjati, Renville, Roem Royen, Konfrensi Meja Bundar (KMB) dan pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Menurutnya hasil-hasil perundingan itu bukan saja merugikan Indonesia, tetapi juga “orang kafir” itu masih turut campur tangan dalam pemerintahan di Indonesia dan berarti memerintahnya.
Dan karena itu jihadlah jalan yang paling baik dan benar. Laskar Hizbullah tidak takut kalah meskipun ia menyadari bahwa  laskarnya jauh dari cukup untuk melawan Belanda (wawancara dengan Tahkimul B Arifin, 2006). Dalam hal ini para pemimpin Laskar Hizbullah tidak pernah bosan-bosannya berusaha menanamkan kecurigaan terhadap Belanda yang menurutnya merupakan sarang orang-orang kafir tersebut menjadi musuh bebuyutannya. Dengan demikian perlawanan Laskar Hizbullah telah dijiwai semangat fanatisme jihad yang tidak mengenal takut.
Suatu contoh yang patut dikemukakan di sini adalah cara-cara bagaimana Laskar Hizbullah bertempur melawan Belanda. Seperti pertempuran di Jembatan Cisokan, Pongpok Landak, Pertempuran Curug dan lain sebagainya. Mengenai pertempuran-pertepuran akan dibahas lebih jauh pada bahasan selanjutnya.
Meskipun mendapat gempuran dari tentara Belanda yang bagaimanapun hebatnya, mereka tidak akan mundur sebab mereka telah meyakini perjuangan yang dilakukannya sebagai Jihad; hidup mulia atau mati syahid sebagai mottonya dan atau mundur dalam rangka menyusun syiasat.

C.    LATAR BELAKANG SOSIAL POLITIK
C.1. Keadaan sosial politik Indonesia 1945-1949
Proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 ternyata mempunyai konsekuensi yang besar. Di samping harus berjuang keras mengatur jalannya pemeintah yang meliputi daerah yang luas juga ia harus mempertahankan kemerdekaan dari kekuatan asing yang ingin menancapkan kekuasaannya lagi di Indonesia, terutama sekutu dan Netherland Indies Civil Administration (NICA). Selain itu RI muda harus mampu mengatasi konflik sosial politik intern di kalangan masyarakat yang cenderung melahirkan situasi anarki dan antagonis.
Berhubungan dengan masalah itu maka Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) segera menetapkan UUD 1945, memilih presiden dan wakilnya serta dibentuknya Komite Nasional Indonesia (KNI) untuk menyelenggarakan kemerdekaan Indonesia yang berkedaulatan rakyat.
Dalam kondisi seperti inilah Laskar Hizbullah Ciranjang lahir, itulah yang membedakan Laskar Hizbullah Ciranjang dengan Laskar Hizbullah yang didirikan oleh Masyumi, walaupun pada waktu-waktu berikutnya tetap melebur sebagai bagian integral dari Laskar Hizbullahnya Masyumi. Masa berikutnya ditandai dengan perjuangan bersenjata untuk mempertahankan kemerdekaan dari pihak sekutu yang diboncengi NICA, yang keduanya tidak mengakui eksistensi kemerdekaan RI dan bahkan ingin menjajah lagi. Ketegangan memuncak tatkala diketahui bahwa NICA mempersenjatai bekas tentara Koninklijk Nederlands-Indisch Leger (KNIL) yang baru di lepas dari tahanan Jepang kemudian mereka banyak memancing kerusuhan, sehingga menimbulkan perlawanan di mana-mana, seperti peristiwa pertempuran di jembatan cisokan dan sebagainya.

C.2. Perkembangan politik di Ciranjang 1945-1949
Berita telah diproklamasikannya Kemerdekaan Republik Indonesia tidak langsung diterima pada waktu dan hari yang sama di Kecamatan Ciranjang, meskipun berita mengenai proklamasi disebarluaskan melalui media komunikasi massa yang telah ada pada waktu itu. Salah satu penyebabnya adalah adanya sensor dari pihak Jepang yang masih berkuasa di Ciranjang.
Kepastian mengenai berita tentang proklamasi Kemerdekaan Indonesia sampai ke Ciranjang pada hari Sabtu tanggal 18 Agustus 1945. sambutan kebahagianpun mulai mengalir dari masyarakat Ciranjang, terutama dari kaum pergerakan nasional Sarekat Islam (SI) Ciranjang. Sebagai tindak lanjut dari peristiwa yang menggembirakan tersebut, maka kaum pergerakan nasional Ciranjang mulai mengadakan pertemuan-pertemuan untuk membicarakan sikap terhadap Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang telah dikumandangkan.
Pada tanggal 29 Agustus 1945, pemerintah pusat membentuk komite nasional Indonesia (KNI) dan badan keamanan rakyat (BKR), di daerah pun termasuk di Ciranjang segera dibentuk pula KNI dan BKR itu sampai ke desa-desa. Kemudian pada tanggal 2 September 1945, di Jakarta diselenggarakan rapat pangreh praja (Pegawai Negeri Sipil) se-Jawa yang menyatakan kesetiannya kepada presiden republik Indonesia, dengan demikian secara otomatis Pegawai Negeri Sipil (PNS) terpenting, mulai dari tingkat kabupaten sampai tingkat kecamatan sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil republik Indonesia. Walaupun secara resminya baru diumumkan pada tanggal 29 September 1945, yaitu dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden Republik Indonesia yang menyatakan seluruh pangreh praja menjadi Pegawai Sipil Republik Indonesia, sedangkan mereka yang diragukan loyalitasnya kepada Republik Indonesia harus disingkirkan. (Tahkimula B. Arifien, 1998: 127-128).
Dengan adanya ketentuan tersebut, maka di Ciranjang pada awal-awal bulan September 1945, telah terbentuk pemerintahan sipil Republik Indonesia Kewadanaan/Kecamatan Ciranjang, Komite Nasional Indonesia (KNI), dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dengan susunan sebagai berikut:
1.      Wedana                            : Rd. Adikoesoemah
2.      Camat                               : Rd. Dawan
3.      Ketua KNI                       : Rd. Sapar Soeparman
4.      Kepala BKR                    : Rd. Aom Boy adikoesoemah
5.      Kepolisian Negara         : M. Karnadisastra
Setelah komite nasional indonesia (KNI) terbentuk. Hampir sebagian besar pengurus Sarekat Islam (SI) Ciranjang itu masuk di seksi penerangan, namun ada tim inti yang terdiri dari:
1.      Mohammad Basyir
2.      Mohammad Ali
3.      Haji Djaenoedin
4.      Dam Rosyadi
Sedang yang lainnya masuk di seksi perlengkapan dan dapur umum bersama orang-orang Ciranjang lainnya, seperti:
1.      Ajengan Tobri
2.      Ajengan Syaefudin
3.      Haji Madjid
4.      Haji Maksoedi
5.      Ibu Syarifah
6.      Uhin
7.      Engkon
8.      Tohir
9.      Adad
10. Ocid
11. B. Wirasasmita
12. Acen
13. Sahro
14. Partondo
Demikian pula para ketua Ranting Sarekat Islam (SI) dan Pemuda Muslim, Pandu SIAP mereka memelopori para pemuda lainnya masuk ke dalam KNI atau BKR baik di Ciranjang maupun di Desanya masing-masing. Pada saat inilah mulai banyak bermunculan badan-badan keamanan atau laskar-laskar. Yang satu diantaranya adalah laskar Hizbullah Ciranjang. Sebuah kelaskaran yang lahir dari tubuh kaum pergerakan sarekat Islam Ciranjang. Didirikan oleh Kiai Mohammad Basyir beserta elit agama Islam Ciranjang lainnya.
Hal tersebut bukan hanya di Daerah, tetapi para pimpinan sarekat islam (SI) di pusatpun, mereka aktif memeloporinya seperti Anwar Cokroaminoto putera H.O.S. Cokroaminoto, kemudian Arudji Kartawinata dan lain-lainnya.
Pada pertengahan bulan september 1945 kantor kawedanaan/kecamatan Ciranjang mulai dipergunakan untuk menampung tentara Jepang yang dilucuti oleh Tentara Sekutu, karenanya pemerintahan Kewadanaan / Kecamatan Ciranjang untuk melaksanakan pekerjaan sehari-hari pindah ke balai desa Ciranjang Hilir di Cibogo, sedang kantor KNI mengisi salah satu toko di sebelah timur kantor Kawedanaan/Kecamatan Ciranjang, yang sekarang dipakai toko pamili 77. sedangkan kantor Kawedanaan / Kecamatan Ciranjang sendiri sekarang dijadikan Ruko.

D.    PERKEMBANGAN DAN PERANAN LASKAR HIZBULLAH
D.1. Asal mula terbentuknya Laskar Hizbullah Ciranjang
Laskar hizbullah Ciranjang pada awal dibentuknya itu, laskarnyapun belum banyak, yang mana laskar intinya hanya terdiri dari para pemuda muslim, Pandu SIAP dari Sarekat Islam (SI), yang pada awal-awal kemerdekaan bergabung ke dalam badan keamanan rakyat (BKR). Akan tetapi setelah BKR dibubarkan, dimana mantan-mantan laskarnya dikoordinir oleh Mohammad Ali. Dimana Mohammad Ali waktu itu secara informal masih menjabat Chudanco Keisyat (Komandan Kompi) Suishintai Kewadanaan Ciranjang. Kemudian setelah terbentuknya badan-badan perjuangan / kelaskaran, mantan-mantan laskar BKR inipun terbagi menjadi tiga golongan, yaitu ada yang bergabung dengan Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI) Moch. Ali, ada yang bergabung dengan Laskar Hizbullah Pimpinan Mohammad Basyir, dan ada yang bergabung dengan Laskar Sabilillah Rd. Iim Ibrahim.
Walaupun latar belakang pendiri Laskar Hizbullah Ciranjang ini tidak mempunyai dasar pengetahuan kemiliteran baik teori maupun lapangan, dikarenakan berpuluh-puluh tahun berjuang untuk meraih kemerdekaan dengan menggunakan jalur politik. Tepatnya 3 Februari 1946, tersusunlah satu Batalyon Laskar Hizbullah, yang pada waktu itu masih bediri sendiri, maka lebih dikenal dengan sebutan Hizbullah Mohammad Basyir atau Hizbullah Ciranjang yang berkedudukan di Desa Gunung Halu
Setelah terbentuknya batalyon Hizbullah Ciranjang yang berkedudukan di Gunung Halu, komandan Batalyon Hizbullah ini menerima sumbangan dari komunitas Nasrani (Kristen) Palalangon yang disampaikan oleh Pendeta Empi, yaitu:
1. Satu buah mesin Tik Portable
2. Dua ekor kuda tunggang.
Kedua jenis sumbangan itu merupakan barang inventaris pertama yang dimiliki oleh batalyon Hizbullah Ciranjang, dan kedua ekor kuda ini merupakanm kendaraan yang vital dan sangat membantu dalam mempercepat proses Batalyon Hizbullah Ciranjang yang berkedudukan di Gunung Halu ini masuk ke dalam jajaran Hizbullah Divisi I Jakarta yang berkedudukan di Purwakarta.
Hubungan-hubungan dan untuk mengantarkan berkas-berkas dokumen ke markas Hizbullah Divisi I di Purwakarta, dipercayakan kepada Komandan Seksi II Rd. Sulaeman dengan dibantu oleh seorang anak buahnya Oping dari Calingcing, kedua Laskar ini berasal dario Hizbullah Kompi I Gunung Halu Pimpinan Rd. Ruba’i, dengan mengendarai kedua ekor kuda tanpa sadel itu dengan rute Mande – Palumbon – Maniis – Parung Kalong – Warung Jeruk – Plered. Dari Plered ke Purwakarta dengan menggunakan kereta Api. (Wawancara dengan Mayor Rd. Sulaeman, 1998 oleh Danung)
Karena lancarnya hubungan-hubungan dengan markas Hizbullah Divisi I di Purwakarta itu, maka pada akhir bulan Februari 1946 Hizbullah Ciranjang yang berkedudukan di Gunung Halu ini, resmi menjadi Hizbullah Batalyon III, Resimen IV (Sakhdi), Divisi I Jakarta (P.A. Nunung). Pun demikian, setelah resmi sebagai bagian dari Divisi I Jakarta secara struktur kemiliteran, namun pada waktu itu tidak lajim orang menyebut satuan-satuan tersebut secara lengkap. Biasanya mereka hanya menyebut nama komandannya saja, seperti Hizbullah Mohammad Basyir.
Hizbullah Resimen IV ini terdiri dari:
1.       Hizbullah Batalyon I Bogor, berkedudukan di Jonggol dengan Komandannya Engkar.
2.       Hizbullah Batalyon II Mande, dengan Komandannya Utom Bustomi.
3.       Hizbullah Batalyon III Ciranjang yang berkedudukan di Gunung Halu dengan Komandannya Mohammad Basyir.

D.2. Keorganisasian Laskar Hizbullah
Pada awal-awal bulan Februari 1946, tepatnya 3 Februari 1946 itu tersusunlah satu Batalyon Laskar Hizbullah, yang pada waktu itu masih bediri sendiri, maka lebih dikenal dengan sebutan Hizbullah Mohammad Basyir atau Hizbullah Ciranjang yang berkedudukan di Gunung Halu, dengan susunan sebagai berikut:
I. Komandan Batalyon               : Mohammad Basyir – Pasir Nangka
II. Wakil Komandan Batalyon  : Rd. Hidayat – Sukanagara
III. Kepala Staf                            : Nani Syaefudin – Pasir Gombong
IV. Staf Administrasi                 :
      1. Juru Tik                             : Sudamo – Cikoronjo
      2. Tekhnisi                            : Nabot – Jatinunggal
      3. Juru Pikul                          : Moyo (Mojo) – Calingcing
V. Kompi I Gunung Halu          : Rd. Ruba’i – Sipon
VI. Seksi-seksi                            :
      1. Seksi I                                : Rd. Momo – Pasir Nangka
      2. Seksi II                               : Rd. Sulaeman – Pasir Nangka
      3. Seksi III                              : Rd. Sena – Cikoronjo
VII. Kompi II Sindang Raja       : Syamsudin – Sindang Raja
VIII. Dapur Umum                      : Suhari – Cibanteng
IX. Kedudukan / Lokasi
      1. Staf Batalyon                    : Pasir Nangka (Rumah Moh. Basyir)
      2. Markas                               : Kanayakan Kidul
      3. Dapur Umum                    : Pasir Nangka (Rumah Haji Solihin)
Sedangkan untuk perlengkapan dan kesehatan bekerjasama dengan seksi perlengkapan dan kesehatan KNI Desa Gunung Halu, yaitu:
Perlengkapan                              : 1. Raiin Majiah – Palalangon
                                                        2. Samuel Simatupang – Rawa Selang
                                                        3. Atmo Sujono – Cikoronjo
                                                        4. Ajengan Sukarma – Sampih
                                                        5. Syair – Kanayakan
                                                        6. Maad – Pangarengan
                                                        7. Madris – Pangarengan
Kesehatan                                                : 1. Cipto Adhi – Ciendog
                                                        2. Alfius – Pasir Kuntul

D.3. Perjuangan-perjuangan Laskar Hizbullah
D.3.1. Memulai dengan satu Karaben
Hizbullah Batalyon III, Resimen IV, Divisi I Jakarta ini secara keanggotaan atau jumlah Laskar sudah banyak, tetapi dilihat dari kelengkapan tempur belum sepucukpun senjata Api yang dimiliki., mereka baru memiliki beberapa buah “Granat Nanas” dan beberapa buah “Granat Lulub”, itupun atas usaha masing-masing Laskar.
Sebagaimana dituturkan oleh Pak Omek (Wawancara, 2006). Pada suatu malam datanglah Pak Raiin Majiah dari Perlengkapan membawa sepucuk Steyer kaliber 6,5 organik Polisi Kolonial Belanda, dan lengkap dengan 10 hower pelurunya.
Menurut keterangan Pak Raiin Majiah, karaben itu diperoleh dari seorang mantan Pilisi Kolonial Belanda, yang kabur ketika Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, senjata itu dikubur di perkebunan Citembong, dan Pak Raiin Majiah sendiri yang mengambilnya. Pagi harinya karaben itu dicoba oleh Alfius dari Kesehatan, ternyata Karaben itu masih baik.
Karena baru sepucuk senjata api saja yang dimiliki, maka oleh Mohammad Basyir (Komandan Batalyon) dan oleh Ruba’i (Komandan Kompi I), karaben itu diberi nama “Si Cikal”, yang kemudian dipegang oleh Usman dari Calingcing, dan seterusnya dipegang oleh Komandan Seksi II Rd. Sulaeman.
Secara berangsur-angsur senjata Api itu terus bertambah, walaupun diantaranya bukan senjata api organik militer, seperti “Cuplis”, “Bedil Teteg”, dan “Bedil Anjing” (senjata berburu dengan kaliber kecil), kemudian diterima kiriman “Granat-granat Lulub” dari Markas Divisi I di Purwakarta, bahkan diterima pula “Granat Plered”, yaitu granat yang dibuat dari tanah liat yang dibakar seperti bata.
Sukarnya untuk memperoleh senjata api bagi laskar Hizbullah Batalyon III ini dapat difahami, Ciranjang sebagai kota kecil tidak seperti di kota-kota besar, mereka bisa dengan cepat mempersenjatai Pasukannya, yaitu dengan merebut senjata dari tentara Jepang yang ada di penampungan-penampungan atau dari polisi-polisi Hindia Belanda.
Bahkan dalam area lebih luas, yakni di Cianjur sebagai sebuah kabupaten. Badan- badan perjuangan / kelaskaran yang hampir bersamaan berdirinya dengan laskar Hizbullah Batalyon III Ciranjang, seperti BBRI yang dibentuk oleh para manta “Suishintai”, pimpinan Kuswaya Harjakusumah, Abdullah Zahid, dan lain-lain, merekapun sangat minim sekali dalam masalah persenjataan ini, karenanya mereka segera mengirim utusan ke Solo untuk meminta bantuan senjata, sebab pusat BBRI itu ada di sana. (Wawancara dengan T.A.H.D. Sofyan, 2001 oleh Nunun Nurkholifah)

D.3.2. Menculik Tentara Sekutu
Setelah Ciranjang diduduki oleh Tentara Sekutu yang bermarkas di Kantor Pos, walaupun telah terjadi bentrokan di Pongpok Landak. Badan-badan perjuangan / kelaskaran di Ciranjang yang sudah mundur menjauhi jalan raya, tidak pernah mengusik Tentara sekutu yang ditempatkan di Ciranjang, juga tidak pernah ada Laskar yang secara terang-terangan membawa Senjata Api ke Ciranjang.
Tentara-tentara sekutu yang ditempatkan di Ciranjang, kalau siang hari suka berkeliaran dengan memakai celana pendek dan kaos oblong, dalam artian tidak berseragam lapangan. Mereka itu berjalan kaki terdiri dari beberapa orang, dan biasanya mereka itu berjalan kaki sampai ke Andir. Alasan pasukan sekutu mondar-mandir di wilayah Ciranjang ternyata dalam rangka mencari makanan, sebab katanya mereka sudah kehabisan ransum, terlebih mereka sudah tidak diperhatikan lagi oleh induk pasukannya di Bandung, kadang-kadang dikirim dan sebaliknya.
Sebagaimana dituturkan Pak Omek (wawancara, 2006). Pada suatu hari jam 10.00 ada seorang tentara Sekutu yang terpisah dari pasukannya, dia masuk ke kampung Kandang Sapi samapai ke “Sawah Garung” (sawah yang tidak ditanami) di Pasir Sengkong. Masturi seorang laskar dan seorang temannya, diberitahu oleh penduduk bahwa ada seorang Gurkha yang sedang berkeliaran. Masturi dan temannya segera menangkap seekor ayam, kemudian di bawa ke Gurkha itu dan dengan bahasa isyarat ditawarkannya. Begitu Gurkha itu mengambil ayam, dengan cepat pula Masturi “merengkas” kaki Gurkha itu sambil merebut senjatanya, dan terjadilah pergumulan yang seru di “sawah garung itu”, Masturi kewalahan sebab ibu jari kakinya diinjak keras sekali dengan sepatu bot Gurkha itu hingga berdarah. Teman Masturi dan penduduk yang melihat segera membantunya, dan menangkap Gurkha itu, lalu dibawa ke staf Hizbullah Batalyon III di Pasir Nangka bersama “kukri” dan senapan “kirop”nya.
Waktu diperiksa dengan bahasa isyarat oleh staf Hizbullah, ia mengaku orang Nepal, tetapi seorang Muslim katanya, sambil menunjukkan rambut di atas kepalanya yang dibiarkan memanjang, tanda seorang Muslim Nepal.
Tidak lama kemudian datang Masturi menyusul, dia tidak bersama-sama dengan Gurkha itu karena mengobati ibu jari kakinya yang pecah. Begitu mereka bertemu lagi, merekapun bersalaman dan berangkulan, kemudian bersama-sama makan nasi bungkus rangsum dari Dapur Umum.
Setelah tiga hari baru Gurkha itu dikembalikan bersama dua orang temannya yang diculik di tempat lain, tetapi senjata-senjata mereka termasuk senjata Gurkha yang diculik tadi, tidak dikembalikan lagi kepada tentara sekutu di di Ciranjang.

D.3.3. Pertempuran Pongpok Landak Citarum
Setelah diketahui bahwa Belanda / KNIL dan NICA ikut memboncengi kedatangan konvoi-konvoi Tentara Sekutu yang mengalir ke Bandung, gangguan secara kecil-kecilan di sekitar Pongpok Landak Citarum itu sudah sering dilakukan dari Kebun Karet yang ada di sebelah Sleatan Jembatan (lama), terutama untuk mengganggu pengawal-pengawal konvoi yang ditempatkan di sekitar Jembatan Citarum (lama).
Pertempuran Pongpok Landak yang terjadi pada tanggal 1 Januari 1946, sebenarnya tidak hanya terjadi di Pongpok Landak, tetapi juga dari sebelah Timur Jembatan (lama) Citarum juga terjadi penghadangan-penghadangan serupa, yang dilakukan oleh Laskar Hizbullah Batalyon III, Hizbullah dari Cikalong Wetan, Cipeundeuy, bahkan yang datang dari Plered. Sedangkan dari sebelah Jembatan (lama Citarum ke Barat dilakukan oleh Badan-badan perjuangan / kelaskaran dari Ciranjang, Bojong Picung, Karang Tengah, Mande, dan dibantu oleh TKR dari Karang Tengah Pimpinan Dasuni Zahid.
Pertempuran Pongpok Landak terhitung seru dan heroik, di samping medannya yang menantang, jalan yang berkelok-kelok, juga bertebing-tebing tinggi di kiri – kannya, juga hutan dan Kebun Jati yang strategis sekali untuk penghadangan, dan para laskar dari kelaskaran pada waktu itu sudah menggunakan “Granat Lulub” dan “Granat Plered”, dan TKR yang sudah cukup lumayan persenjataannya.

D.3.4. Pertempuran Cisokan
Sejak Ciranjang terbagi dua, badan-bdan perjuangan / kelaskaran terus menata pasukannya di tempat yang dikuasai masing-masing, sambil terus mengadakan perlawanan dalam bentuk penghadangan terhadap konvoi-konvoi Tentara Sekutu. Pada tanggal 30-31 Maret 1945 terjadi lagi pertempuran yang paling besar dan heroik, melebihi pertempuran Pongpok Landak, pertempuran tersebut lebih dikenal dengan “Pertempuran Cisokan” yang berlangsung selama dua hari dua malam, dengan arena pertempuran  mulai dari Cikijing sampai Pasanggrahan di Ciranjang, dan memakan korban yang tidak sedikit dari kedua belah pihak.
Pada awal mulanya yang memprakarsai “Pertempuran Cisokan” ialah Laskar Sabilillah pimpinan Rd. Iim Ibrahim yang berkedudukan di Selajambe, Laskar Sabilillah telah mempersiapkan segala bentuk persiapan dalam rangka menghadang konvoi-konvoi Tentara Sekutu, baik yang datang dari Barat maupun dari Timur. “Bom Batok” (ranjau darat) telah ditanam dibeberapa ruas jalan antara Cikijing dan Tungturunan, demikian juga dengan fasilitas penunjang, seperti dapur umum telah disiapkan di beberapa tempat. Namun selama dua hari mereka menunggu, ternyata konvoi-konvoi itu tidak ada yang lewat, besar dugaan pada waktu itu mungkin pengawal-pengawal konvoi yang ditempatkan di Ciranjang telah mengetahuinya serta melaporkannya ke Jakarta dan Bandung. (Wawancara dengan Tahkimula B. Arifien, 2006)
Rencana penghadangan konvoi di Cisokan ini pada akhirnya diketahui juga oleh Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran lainnya dan TRI. Terlebih awal diketahui oleh Hizbullah Batalyon II Pimpinan Utom Bustomi yang berkedudukan di Mande, Hizbullah Batalyon III Pimpinan Mohammad Basyir, satu Kompi dari Hizbullah Batalyon III ini, yaitu Kompi II Pimpinan Syamsudin yang berkedudukan di Sindang Raja, yang bergabung dengan Hizbullah Batalyon II Pimpianan Utom Bustomi, BBRI Mohamad Ali, dan BBRI dari Cianjur, ditempatkan disekitar Cikamunding dan Tungturunan.
Setelah badan-badan perjuangan / kelaskaran dan TRI berdatangan, maka terpilihlah Utom Bustomi, Komandan Hizbullah Batalyon II sebagai Komandan Gabungan Penghadangan Konvoi-konvoi. Keputusan awal yang diambil adalah dengan mengosongkan kampung-kampung mulai dari Pasir Nangka sampai Tungturunan dikosongkan dari penduduk, dan diisi oleh Laskar-laskar dari masing-masing kelaskaran dan TRI. Sebelah Barat diisi oleh TRI dan BBRI dari Cianjur dan Karang Tengah, di barisan tengah oleh Laskar Sabilillah, Tegal Teri dan Bantar Gebang BBRI Mohammad Ali, sedangkan di Cikamuning, Tungturunan, terutama di Kebon Jati pinggiran Cisokan diisi oleh Laskar Hizbullah Batalyon II dan Hizbullah Kompi II Batalyon III. Sedangkan di Pasanggrahan diisi oleh Hizbullah Kompi I Pimpinan Rd. Ruba’i dari Hizbullah Batalyon III Pimpinan Mohammad Basyir bersama “Laskar Eredan” dari BBRI Mohammad Ali, yang dipimpin noleh Partondo dan Yotham. (Adjat Sukandi, 1990: 47)
Selang beberapa hari konvoi-konvoi Tentara Sekutu datang dari arah Barat maupun Timur, yang didahului oleh dua buah pesawat Speed Fire (Pesawat Pemburu) dan dua buah Bomber B. 25, dan ketika Pesawat Terbang itu ada di atas kebun Jati Pinggiran Cisokan itu ditembaki dengan karaben oleh laskar-laskar yang berada di sana. Tentara Sekutu membalas dengan tembakan senapan mesin kaliber 12,7 dari pesawat-pesawat Speed Fire secara membabi buta ke kedudukan-kedudukan para laskar, baik yang berada di sebelah Utara Jalan Raya maupun mereka yang ada di sebelah Sleatan Jalan Raya. Kemudian untuk beberapa waktu keempat pesawat Terbang itu menghilang dan datanglah iring-iringan konvoi Tentara Sekutu dari Barat yang didahului dengan kendaraan-kendaraan Berlapis Baja, kemudian menembaki daerah sekitar dengan senapan otomatis, Mortir, dan kanon secara membabi buta juga. Setelah konvoi dari Barat itu melanggar “Bom Batok” yang diatanam di ruas Jalan antara Cikijing dan Tungturunan.
Selang waktu tidak lama kemudian datang juga konvoi dari Timur dan terjadilah tembak-menembak dengan seru, laskar-laskar yang ditempatkan di Kebun Jati pinggiran Cisokan terus terdesak oleh Tentara Sekutu, dan mereka mundur untuk menyelamatkan diri, tapi malang mereka terperosok ke dalam jurang-jurang yang tinggi dan berbatu-batu di pinggiran Cisokan, dan kebetulan sekali pada waktu itu air Cisokan sedang meluap, maka selain dari mereka banyak yang patah tangan atau kakinya, karena terjerumus ke jurang, terlebih banyak yang hanyut terbawa banjir. Demikian juga para laskar yang ada di sebelah Selatan, mereka didesak Tentara Sekutu sampai rel Kereta Api.
Tidak lama kemudian dua buah Bomber B. 25 kembali lagi, dan menerjunkan tidak kurang dari lima buah parasut di atas Jembatan Cisokan, tetapi karena terbawa angin, parasut itu jatuh di sebelah Utara Cikijing, dan diburu oleh para laskar yang ditempatkan di sana. Ternyata kelima parasut itu Cuma berisi peralatan untuk memperbaiki Jembatan, seperti mur, baud, dan potongan-potongan besi. Besar kemungkinan Tentara Sekutu mengira bahwa Jembatan Cisokan itu sudah dihancurkan oleh para laskar.
Kemudian disusul lagi dengan kembalinya dua buah pesawat Speed Fire yang sempat menghilang, dan terus menembaki kembali sasaran yang mereka curigai secara membabi buta.
Pertempuran di Jembatan Cisokan ini berlangsung selama dua hari dua malam, korban yang gugur dari pihak laskar yang dapat diketahui, yaitu hanya empat orang, sedang yang luka-luka itu banyak sekali, terutama yang terjerumus ke dalam jurang, sedangkan yang terbawa hanyut dengan banjir tidak diketahui lagi nasibnya. Namun, dari pihak Sekutu juga banyak jatuh korban, menurut Adjat Sukandi (Wawancara Nunun Nurkholifah, 2001), selain korban dengan peluru-peluru dan granat-granat para laskar, juga oleh peluru-peluru dari pesawat pemburu, dikarenakan waktu Tentara Sekutu yang terus mendesak para Laskar, kemudian dapat merebut dan menduduki tempat-tempat para Laskar bertahan, pesawat-pesawat pemburu tersebut tetap terus melepaskan tembakan, maka yang tertembak tersebut adalah tentaranya sendiri. Selain itu para laskar pun berhasil menawan beberapa tentara Gurkha yaitu Basin, Tek Dur, Dal Badur, Besin, dan dua orang tentara NICA, yaitu Garule Tamang dan Idris Ali.
Setelah dua hari pertempuran itu baru mereda, tetapi Tentara Sekutu, baik yang mundur ke Barat maupun ke Timur, mereka itu sambil terus membakari rumah-rumah di sepanjang Jalan Raya.
Dalam buku “Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia jilid 5 halaman 187-188”, Jenderal A.H. Nasution juga menuslikan tentang Pertempuran Cisokan ini, antara lain:
Sesungguhnya kami terus melakukan serangan-serangan Jalan Raya Puncak – Padalarang menjadi perhatian musuh yang utama, akan tetapi pihak kitapun terus mengganggu dan menghadang mereka. Pada tanggal 30-31 Maret 1946 berkobar pertempuran sejak Cianjur sampai Rajamandala dari Barat Citarum musuh datang dengan lebih 125 kendaraan. Pertempuran di Cisokan dan Ciranjang berlangsung cukup lama. Musuh membakari kampung-kampung sepanjang  Jalan. Rakyat mengungsi dan meninggalkan sawah-sawahnya yang dekat ke Jalan Raya. Jalan Kereta Api Padalarang – Cianjur putus sama sekali, karena vak ini tidak aman lagi. Musuh menduduki Stasiun Selajambe, Ciranjang dan Cipeuyeum serta merintangi rel di beberapa tempat


D.3.5. Mencangkul, Berlatih, dan Bertempur
Dengan dimilikinya senjata-senjata sederhana dan “Granat-granat Lulub” oleh Laskar Hizbullah Batalyon III, maka untuk mengganggu konvoi sekutu makin intensif dilakukan, mulai dari jembatan Cisokan di sebelah Barat sampai pintu kereta api di sebelah Timur (Cipeuyeum),. Merupakan daerah operasi Laskar Hizbullah Batalyon III, dikatakan mendominasi, dikarenakan pada kenyataannya demikian. Walaupun pada waktu itu banyak juga laskar-laskr BBRI Moh. Ali di Gunung Halu, Regu Partondo di Cikoronjo, Regu Yotham di Rawa Selang dan Regu Acin di kanayakan, tetapi setelah Ciranjang terbagi dua, mereka tidak bisa bergabung lagi dengan induk pasukannya di Selatan, yang pada waktu itu sudah mundur lagi ke Pangicisan, karenanya pada waktu ada istilah “Laskar Eredan” –Laskar yang terasing.
Ketika Markas Hizbullah Batalyon III menempati rumah Rachel di Kanayakan Kidul (Kebon Kalapa), masyarakat umum tidak dapat membedakan mana laskar BBRI Moh. Ali dan mana Laskar Hizbullah Batalyon III, bahkan para Laskar sendiri banyak yang tidak tahu, kalu markas itu milik Hizbullah Batalyon III.
Mayor Infantri Purnawirawan Rd. Sulaeman menjelaskan ini sebagai berikut: (Wawancara Tahkimul B. Arifien, 2006)
Saya ini orang lapangan, sejak Ciranjang dibagi dua, di sebelah Utara jalan raya itu tidak ada lagi pasukan lain, dalam arti pasukan yang mempunyai struktur dan komando tersendiri, kecuali Hizbullah batalyon III. Mungkin saja kalau secara perorangan itu ada, tetapi tidak merupakan pasukan khusus. Sebab laskar-laskar BBRI Moh. Ali yang berada di Gunung Halu dan tidak bisa bergabung ke Selatan, dalam kegiatannya sehari-hari, mereka itu bersama-sama kami dalam satu komando dari Hizbullah Batalyon III.
Kemudian mengenai keberadaan Yotham di lingkungan Hizbullah Batalyon III. Waktu itu, pada mulanya Yotham dari Rawa Selang itu hanya sebagai pelatih dengan seorang temannya bernama Carson mantan Prajurit PETA, tetapi Carson ini dan Nabot dari jati Nunggal serta kawan-kawan lainnya terus bergabung dengan Hizbullah Batalyon III ini sampai kami mundur ke Warung Jeruk.

Walaupun Markas Hizbullah Batalyon III itu di Kanayakan Kidul (Kebon Kalapa), tetapi tidak seluruh Laskar ditampung di sana dan hanya mereka yang sedang “Hosho” (piket) saja, laskar-laskar lainnya tersebar di rumahnya masing-masing, hanya pada malam hari mereka tidak tidur di markas dan tajug Kanayakan.
Meskipun mereka itu tersebar, tetapi ada pos-pos tertentu tempat Hizbullah Batalyon III, maksudnya agar mudah dihubungi kalau ada kegiatan untuk berlatih, atau mengganggu Konvoi Tentara Sekutu itu. Pos-pos tersebut antara lain:
1. Pasir Nangka – Staf Batalyon.
2. Sampih – Sajun
3. JatiNunggal – Asa
4. Rawa Selang – Yotham
5. Calingcing – Oping
6. Leuweng Konde – Omek
7. Kanayakan – Markas Hizbullah Batalyon III
8. Pangarengan – Amir
Adanya pos-pos tersebut agar para laskar juga dapat bekerja dan menghidupi keluarganya, namun demikian mereka juga disiplin dan selalu siap untuk mengadakan latihan menggunakan senjata dan perang-perangan, biasanya dilakukan setiap lepas lohor (Dzuhur) bertempat di Kanayakan Kidul (Kebon Kalapa), di Tegal Pasir Nangka atau Kebun Jati Calingcing.
Sejak terjadinya “Bandung Lautan Api” tanggal 24 Maret 1946, dan Bandung telah dikuasai sepenuhnya oleh Tentara Sekutu, sedangkan Pemerintahan Sipil, TRI, dan Kelaskaran mundur ke Selatan, kegiatan untuk mengganggu konvoi Tentara Sekutu itu makin ditingkatkan di mana-mana sepanjang Jalan Raya Puncak – Bandung, karena disamping NICA / Belanda yang mendarat bersama Tentara Sekutu dan RAPWI di Jakarta pada tanggal 15-19 September 1945, diketahui juga tentara Belanda Divisi B KNIL, yang kebanyakan terdiri dari orang Ambon, dan Manado, terus mengalir ke Bandung bersama Konvoi Tentara Sekutu. Dan laskar-laskarpun sudah makin berani karena mereka sudah memiliki senjata yang cukup memadai.
Dan sejak “pertempuran Cisokan” itulah tentara Sekutu diperkuat di Cianjur, Karang Tengah, dan Ciranjang. Rumah-rumah di pinggir Jalan Raya sudah banyak yang dibakr dan rakyat yang dpinggir jalan Rayapun mengungsi menjauhi Jalan Raya.
Sedangkan para laskar juga terus mengganggu konvoi-konvoi itu, mereka tidak peduli lagi apakah konvoi Tentara Sekutu, yang di dalamnya orang India dan Gurkha, atau Konvoi NICA / Belanda dan KNIL yang menyamar, kalau ada kesempatan merekapun terus mengganggunya secara sporadis, dan kadang-kadang dilakukan hanya atas inisiatif satu atau dua regu saja, yang lainnya tidak diajak atau tidak diberi tahu.
Biasanya para Laskar Hizbullah Batalyon III mengganggu konvoi-konvoi itu dilakukan setelah Dzuhur, sebab dari pagi sampai Dzuhur, para laskar bekerja dulu untuk kepentingan Keluarganya, seperti; mencangkul, mencari kayu bakar, dan lain sebagainya, di samping itu memang konvoi-konvoi dari Jakarta yang berangkat jam 06.00 atau jam 07.00 pagi itu, sampai di daerah Ciranjang jam 12.00 atau jam 13.00 siang.
Mengenai penghadangan-penghadangan di sepanjang Jalan Raya Puncak – Bandung ini, Jenderal A.H. Nasution dalam bukunya yang berjudul Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia jilid 3 halaman 172 menjelaskan antara lain:
Gangguan-gangguan terhadap konvoi lawan dilakukan sampai sekarang oleh pasukan-pasukan kecil, terutama oleh laskar-laskar setempat di sepanjang jalan. Hanya kurang sekali pimpinan dan koordinasi. Tempo-tempo di balas oleh Belanda dengan serangan balasan tetapi atas kampung-kampung, seperti dialami oleh rakyat Ciawi, Pacet, Cugenang, Ciranjang, Rajamandala, Cipatat dan Padalarang.

Penghadangan-penghadangan terhadap konvoi sekutu yang dilakukan oleh laskar-laskar Hizbullah Batalyon III itu hampir setiap hari, namun seperti diketahui di daerah Ciranjang ini, daerah Pesawahan jadi medannya terbuka, sulit sekali untuk mencari tempat-tempat strategis untuk menghadang, dan tempat yang paling strategis untuk melemparkan “Granat-granat Lulub”, yaitu kalau di sebelah Barat di sekitar jembatan Cisokan (lama), bekas arena “pertempuran Cisokan” dan disebelah timur yaitu di sekitar desa dan sekolah Cipeuyeum, yang pada waktu itu kiri-kanannya masih bertebing-tebing tinggi dan hutan-hutan Jati. Tetapi dalam penghadangan tersebut ada kalanya “Granat-granat Lulub” yang menjadi senjata andalan tidak meledak semua.

D.3.6. Pertempuran Curug
April 1946, Tentara Sekutu sudah mulai secara terang-terangan memihak kepada Belanda, sebagai bukti wilayah Bandung Selatan yang sebelumnya dikuasai oleh Tentara Sekutu diserahkan kepada Belanda. Di samping itu untuk mempercepat masuknya Belanda ke Bandung, Tentara Sekutupun membantunya dengan mengangkut mereka dari Jakarta ke Bandung dengan menggunakan Pesawat Terbang Sekutu jenis Dakota. Mereka tidak menggunakan jalur darat, dikarenakan banyaknya penghadangan-penghadangan yang dilakukan oleh badan-badan perjuangan atau kelaskaran. Hal ini seperti yang dikemukakan oleh A.H. Nasution dalam bukunya Sekelumit Peristiwa Bandung Lautan Api  halaman 24-25, antara lain:
Maka setelah seluruh kota Bandung diduduki oleh Sekutu, didatangkanlah pasukan-pasukan Belanda. Pada awal-awal bulan April 1946, selama 3 hari Dakota-dakota Inggris mundar-mandir mendatangkan 2.500 orang Belanda. Disini ditugaskan Brigade V di bawah Kolonel Moier. Dan buat pertama kali kita berhadapan dengan Belanda.

Demikian pula Tentara Sekutu yang ditempatkan di Ciranjang sudah mulai berulah pula, mereka menempatkan posnya di sekitar Jembatan Ciranjang (Curug), sedang kalu siang hari mereka juga menempatkan pengawalnya di Sipon dan Leuwung Lame.
pada suatu mala laskar-laskar tanpa sepengetahuan Komandan Hizbullah Batalyon III (Mohammad Basyir), laskar-laskar itu di bawa oleh pak Juhnawi, --yang kemudian ikenal dengan H. Durahman, dari kampung Sukasirna sebelah Timur Kanayakan, rupanya ingin sekali memberikan dorongan semangat kepada para laskar yang akan pergi bertempur. Mereka dimandikan dan diberi minum dengan air dari buyung yang telah diberi jampi-jampi dan ada batu-batu ajimat di dalamnya. Namun, setelah diketahui oleh Komandan Hizbullah Batalyon III, memandikan dan memberi minum dengan memakai batu-batu ajimat itu tidak diperkenankan lagi, tapi kalau memberi minum dan memandikan para laskar yang habis bertempur boleh-boleh saja katanya.
Waktu akan berangkat menyerang Curug, para laskar dibariskan terlebih dahulu, mulai dari Curugan sampai mendekati Curugan Pasir Nangka. Sebelum berangkat mereka membaca takbir terlebih dahulu beberapa kali, kemudian berangkat dibagi menjadi beberapa kelompok.
Walaupun serangan para laskar itu tidak berarti apa-apa buat Tentara Sekutu yang diserang, tapi bagi laskar-laskar yang melakukan penyerangan, hal itu sangat berarti sekali, karena dianggap sebagai latihan bagaimana kalau mereka menyerang musuh di malam hari, dan membiasakan diri untuk mendengar desingan-desingan peluru yang ditembakan Tentara Sekutu.

D.4. Tanggapan Laskar Hizbullah Batalyon III Ciranjang terhadap reorganisasi badan-badan / laskar-laskar ke dalam TNI
Setelah penandatanganan Perundingan Lingga Jati, pada akhir April 1947 Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran yang ada di Ciranjang dan Warung Jeruk dikumpulkan di Purwakarta untuk menerima pengarahan dari Pimpinan-pimpinan TRI baik dari Jawa Barat, maupun dari Markas Besar Tentara (MBT) dari Jogjakarta, terutama dari Letna Jenderal Urip Sumoharjo. Dalam pengarahan itu pada intinya, bahwa semua kekuatan yang ada harus ditata kembali karena perang melawan Belanda ini diduga akan berlangsung lama, karena pasukan-pasukan Bersenjata itu harus betul-betul profesional. (Tahkimula B. Arifien, 1998)
Sejak adanya pengarahan, yang sekaligus sebagai sosialisasi awal untuk dilakukannya reorganisisasi badan-badan perjuangan dan kelaskaran yang ada ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tanggapan terhadap pengarahan tersebut, disambut positif oleh Laskar Hizbullah Divisi I Jakarta yang pada saat itu berkedudukan di Purwakarta. Respon tersebut dalam bentuk dilakukannya kembali penataan Resimen dan Batalyon-batalyonnya. Walaupun tidak semua Laskar Hizbullah menerima proses reorganisasi tersebut, salah satu diantaranya adalah sebagian besar Laskar Hizbullah Batalyon III Ciranjang.
Dengan adanya penataan kembali tersebut, maka pada bulan Mei 1947 Komandan Batalyon III Resimen IV Divisi I Jakarta dipanggil ke Purwakarta untuk menyerahkan semua Laskar Hizbullah yang berada di bawah kepemimpinannya kepada Panglima Hizbullah Divisi I Jakarta, dan sejak itu pula semua Laskar Hizbullah Batalyon III ditarik dari Ciranjang dan Warung Jeruk ke Purwakarta.
Tetapi dengan dioserahkannya Laskar Hizbullah Batalyon III Resimen IV Divisi I Jakarta ini banyak yang mengundurkan diri diantaranya, yaitu:
1.      Komandan Hizbullah Batalyon III (Bapak Mohammad Basyir)
2.      Wakil Komandan Hizbullah Batalyon III (Rd. Ruba’i)
3.      Kepala Staf Hizbullah Batalyon III (Nani Syaefudin)
4.      Komandan Kompi I Gunung Halu (Rd. Ruba’i)
5.      Komandan Kompi II Sindang Raja (Rd. Syamsudin)
Sedangkan yang tetap tergabung dalam Batalyon III yang nantinya masuk ke dalam Tentara Nasional Indonesia (TNI), hanya dari Komandan Seksi, Komandan Regu, dan sebagian Laskarnya.
Adanya reorganisasi Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran ini ternyata tidak hanya terjadi di Jawa Barat, tetapi seluruh Indonesia, hingga satu Kompi Laskar Hizbullah dari Yogyakarta yang ditempatkan di Purwakarta juga segera ditarik ke Induk Pasukannya, sedangkan senjata-senjatanya yang kebanyakan senjata Jepang diserahkan kepada Hizbullah Divisi I Jakarta, kemudian diserahkan kembali kepada Laskar-laskar Hizbullah Batalyon III hasil penataan tersebut. Maka bertambah lengkaplah persenjataan Hizbullah Batalyon III Ciranjang.
Masih dalam bulan Mei 1947, Mantan Komandan Hizbullah Batalyon III Mohammad Basyir membentuk Dewan Persatuan Perjuangan Cianjur Utara, bersama para mantan Pimpinan yang mengundurkan diri dari Kelaskaran-kelaskaran tersebut, diantaranya :
1.      Abdullah Zahid (BBRI)
2.      Rukma (BBRI)
3.      Nani Syaefudin (Hizbullah)
4.      Rd. Ruba’i (Hizbullah)
5.      Osip (Lurah Desa Gunung Halu).
Sementara itu pada tanggal 5 Mei 1947 Pemerintah telah memutuskan untuk mempersatukan Laskar-laskar dari Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran dalam satu wadah dengan TRI, disusul dengan Dekrit Presiden tanggal 8 Juni 1947. berdasarkan Dekrit Presiden 8 Juni 1947, maka pada tanggal 15 Juni 1947 Pemerintah memiliterisasikan Laskar-laskar dari seluruh Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran yang ada di Indonesia menjadi TRI dengan membentuk Batalyon-batalyon dan Resimen-resimen baru dengan menggabungkan Laskar-laskar tersebut. Kemudian pada tanggal 3 Juli 1947 TRI diubah menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI), di Jawa Barat seluruhnya masuk ke Divisi I Siliwangi, yang pada tanggal 20 Mei 1947 itu baru saja diresmikan dengan memperkenalkan Panji-panji Siliwangi, dengan Panglimanya A.H. Nasution.
Laskar-laskar Hizbullah dari Batalyon II Pimpinan Utom Bustomi dan Hizbullah Batalyon III Pimpinan Mohammad Basyir digabungkan menjadi satu Batalyon TNI, yaitu Batalyon “Surya Kencana” Resimen 7 Divisi I Siliwangi, dengan Komandan Batalyon Kapten Tabrani Idris mantan Pejuang Tanah Air (PETA) dari Cikijing Selajambe, sedang Kepala Stafnya Utom Bustomi, mantan Komandan Hizbullah Batalyon II.
Kemudian sisa Laskar-laskar dari Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran lainnya juga digabungkan menjadi satu Batalyon TNI, yaitu Batalyon “Benteng Ketaton” Resimen 7 Divisi Siliwangi, dengan Komandan Batalyon Kapten Sakhdi, mantan Komandan Hizbullah Resimen IV Divisi I Jakarta.
Dengan telah dibentuknya Batalyon-batalyon baru tersebut, mantan-mantan Komandan Laskar yang telah mengundurkan diri dan bergabung dalam Dewan Persatuan Perjuangan Cianjur Utara itu diantaranya ada yang diaktifkan kembali dan dimasukan ke dalam Batalyon “Benteng Ketaton”, diantaranya yaitu:
1.      Abdullah Zahid menjadi Kepala Staf Batalyon II/BK/Resimen 7 Divisi I Siliwangi, dengan pangkat Letnan.
2.      Mohammad Basyir Wakil kepala Staf Batalyon II/BK/Resimen 7 Divisi I Siliwangi, dengan pangkat Letnan Muda.
3.      Rukman Komandan Kompi II Batalyon II/BK/Resimen 7 Divisi I Siliwangi, dengan pangkat Letnan Muda.
Namun ketiga orang di atas belum sepenuhnya aktif, terutama mantan Komandan Hizbullah Batalyon III, Mohammad Basyir yang tidak bisa lagi bersama-sama dengan Laskar-laskarnya, yang telah dibawanya sejak memulai perjuangan dengan dibekali satu Karaben, Geranat Lulub, satu Mesin Tik, dan dua ekor Kuda, sekarang harus berpisah dengan mereka, dan bergabung dengan Laskar-laskar yang belum dikenalnya sama sekali. Di samping itu karena masih terus mengadakan penyusunan formasi, Mohammad Basyir tetap berada di Purwakarta belum bergabung dengan Pasukan yang diresmikan pada awal-awal bulan juli 1947 dan telah ditempatkan pada pos-pos baru., seperti dijelaskan juga oleh Jenderal A.H. Nasution Jilid 5. Halaman 157, antara lain:
Di sektor Padalarang yang bersumbu jalan raya Purwakarta Bandung, berada Resimen 7 Omon Abdurakhman. Pos Komando Resimen berada di Plered di persimpangan jalan Purwakarta – Cianjur dan Purwakarta – Bandung. Batalyon “Banteng” (Kapten Syahdi) dan Batalyon “Hizbullah” (kapten Tabrani), berada di jalan Plered – Cikalong Kulon (Cianjur). Batalyon ini masing-masing bernama “Banteng Ketaton” dan “Surya Kencana”, yang pada awal Juli dilantik oleh Panglima Divisi Siliwangi menjadi TNI.

Mengenai pembentukan Batalyon baru TNI yang merupakan perwujudan lain dari Badan-badan Perjuangan / Kelaskaran terutama dari Laskar Hizbullah ditanggapi senada oleh Tahkimula B. Arifien (Wawancara, 2006), yakni:
Batalyon “Surya Kencana” Resimen VII Divisi I Siliwangi ini, seperti sudah dikemukakan, merupakan gabungan Laskar Hizbullah Batalyon I Pimpinan Engkar, Batalyon II Pimpinan Utom Bustomi, dan Batalyon III Pimpinan Mohammad Basyir, namun Mohammad Basyir tidak aktif lagi di Batalyon itu dan menjabat Wakil Kepala Staf Batalyon Banteng Ketaton, yang juga merupakan gabungan dari Badan-badan / Kelaskaran yang dibentuk menjadi TNI, tapi juga tidak terus aktif, karena mengungsi ke Priangan Timur dan bergerilya di sana.
Namun pada masa-masa Gerilya, batalyon “Surya Kencana” Resimen VII Divisi I Siliwangi ini, pada waktu itu sudah mulai dikenal dan berganti nama menjadi T.I.I. “Surya Kencana” 88 atau “TII/SK 88.

Peranan TII/SK 88 di sebelah Utara ini memang sangat dominan, bahkan dalam prakteknya di lapangan, mereka beroperasi sampai Daerah Bogor, dan pernah pula diperbantukan ke Sukanagara. Mengenai penggunaan  istilah TII ini, ternyata kedepannya ada hubungan dengan gerakan Darul Islam (DI) yang dipimpin oleh Komandan Hizbullah Priangan, yakni Sekarmaji Marijan Kartosuwiro. S.M. Kartosuwiryo yang pernah ditawari untuk menjadi Menteri Muda Pertahanan Republik Indonesia pada tanggal 7 Agustus 1949 memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). (Van Dijk, 1983; Karl D. Jackson, 1990; al-Chaidar, 1999).
Mengenai DI/TII tidak akan dibahas lebih jauh dan mendalam, dikarenakan ini bukan dalam ruang lingkup penelitian yang penulis lakukan. Meskipun ada, hanyalah pembahasan secara sekilas, yang bertujuan untuk mengambil benang merah antara Laskar Hizbullah dengan sayap militer NII atau lebih dikenal dengan Tentara Islam Indonesia (TII).

D.5 Hubungan dengan DI/TII
Mulai dipergunakannya istilah “TII/SK 88” terjadi sesudah adanya instruksi untuk mengadakan long march “Hijrah” ke Yogyakarta setelah ditandatanganinya perjanjian Renville. Di dalam masa-masa bergerilya itu, banyak sekali serangan-serangan terhadap kedudukan-kedudukan Belanda di Wilayah Cianjur, khususnya Ciranjang, baik oleh para Gerilyawan yang berada di Selatan, maupun oleh para Gerilyawan yang ada di Utara, yang didominasi oleh Pasukan Batalyon “Surya Kenca” yang kadang-kadang disebut juga “TII/SK 88”, dan Batalyon “Banteng Ketaton”.
Tetapi dalam operasi-operasi militer, mereka itu kadang-kadang lebih cenderung sebagai pasukan sempalan dari Batalyon “Surya Kencana”, dengan nama-nama TII/SK 88, “Pasukan Istimewa (PI)”, atau juga disebut “SP 88”. Pasukan Istimewa (PI) atau “SP 88” dari Utara ini lebih dikenal dengan nama “Pasukan Koim”, sebab dipimpin oleh Koim. Dan memang pada awal-awal Kemerdekaan Koim itu tidak dikenal, tetapi setelah Agresi Belanda I dan II, terlebih setelah TNI berhijrah ke Yogyakarta, Koim yang berasal dari Hizbullah itu tiba-tiba muncul. (Tahkimula B. Arifien, 1998: 375).
Terdapat hal menarik dalam poin ini, adalah adanya hubungan yang erat antara Batalyon Surya Kencana dengan pasukan Koim, yang sekitar akhir tahun 1948 dan tepatnya sesudah diproklamasikannya NII oleh S.M. Kartosuwiryo pada tanggal 7 Agustus 1949 di Malangbong. Identitas Koim pun akhirnya terkuak, beliau merupakan Laskar Hizbullah yang mengintegrasikan diri ke dalam TII yang menolak mentah-mentah terhadap semua perjanjian yang dilakukan pemerintah dengan pihak Belanda, terlebih pada perjanjian Renville.
Pasukan Koim yang lebih dikenal dengan TII/SK 88 merupakan pasukan yang menggentarkan pihak Penjajah Belanda. Hal tersebut dapat dilihat dari perlawanannya terhadap Belanda, sebagaimana diuraikan oleh Tahkimula B. Arifien dalam bukunya “Catatan Ciranjang dan Desa Gunung Halu di Sekitar Perang Kemerdekaan RI tahun 1945-1949” halaman 378-379, menjelaskan:
1.      Pada awal tahun 1947, “Pasukan Koim” dapat mencuri 3 buah senapan L.E., 1 Stand Gun, dari Markas Belanda di Ciranjang, ketika mereka sedang asyik menonton Sandiwara yang dikirim dari Negara Belanda untuk menghibur mereka, di kantor Kewadanaan / Kecamatan Ciranjang.
2.      Pada awal tahun 1947 itu juga, “Pasukan Koim” dapat mencuri lagi 4 buah L.E. dari Markas Belanda di Jangari yang sedang asyik menonton Main Bola.
3.      Pada bulan April 1947 “Pasukan Koim” dapat mencuri 2 buah L.E. dan 1 buah Brand Gun, dari Markas Belanda di Pacet.
4.      “Pasukan Koim” merebut pistol-pistol dari Lurah-lurah NICA, diantaranya dari Lurah Encep di Karang Tengah.
Dari hasil mencuri tersebut sampai akhir tahun 1947 dapat dikumpulkan senjata-senjata sebanyak 19 buah, terdiri dari 8 buah L.E., 7 buah Stand Gun, 1 buah Brand Gun dan 3 buah pistol.
5.      Bulan Mei 1948 “Pasukan Koim” bersama-sama R. Basar, Encep Mukhtar, Sadewa, dan Cece Gani serta Batalyon F. 22 Jaya Pangrerot Pimpinan Rd. Akhmad Sungkawa (TII Cililin), terus mengadakan serangan-serangan terhadap Markas-markas Belanda yang ada di daerah Ciranjang. Selama serangan-serangan ini telah banyak memakan korban, baik di pihak Gerilyawan maupun di pihak Belanda, terutama waktu pertempuran di Sela Eurih Karang Tengah, diantaranya yang gugur itu Darna dari Batalyon F 22 Jaya Pangrerot.
6.      Bulan Juni 1948 jam 10.00 malam “Pasukan Koim” menyerang Markas Belanda di Jalan Cikidang Cianjur, pada serangan itu Tentara Belanda tidak sempat mengadakan perlawanan dan mundur ke dalam kota. Kemudian serangan diteruskan secara berantai ke Sadang dan Maleber, dalam serangan-serangan itu dapat direbut beberapa buah senjata dan beberapa puluh stel pakaian seragam Tentara Belanda, kemudian Pasukan mundur ke Palumbon.
7.      Bulan Juli 1948 jam 11.00 siang di jalan Raya Ciranjang – Cianjur yaitu di Kampung Belendung, “Pasukan Koim” dengan menyamar sebagai Polisi NICA mencegat sebuah sedan yang berisi 5 orang Tentara Belanda, yang satu ditembak mati di tempat dan sedannya dibakar, sedangkan yang empat orang lainnya diculik dibawa ke Palumbon.
8.      Bulan Juli 1948 jam 05.00 pagi “Pasukan Koim” mencegat satu Truk Tentara Belanda yang membawa 12 orang dan semuanya dapat dibunuh, senjatanya dirampas dan Truknya dibakar, kemudian pasukan mundur ke Plered Purwakarta.
Walaupun serangan-serangan Gerilyawan itu sporadis tapi fatal, maka Belanda pun pernah mengadakan operasi besar-besaran dengan mendatangkan KNIL Baret Hijau, dengan dilengkapi Artileri berat dan kendaraan Lapis Baja.
Daerah Mande, Cirameuwah Hilir, Palumbon terus digempur dengan Artileri itu yang ditembakan dari Cikijing. Kemudian yang lainnya menyisir kampung-kampung, Hutan, dan sepanjang pinggiran Cisokan. Pada waktu itu 9 orang Gerilyawan gugur dari Batalyon “Surya Kencana” Resimen VII Divisi I Siliwangi atau TII/SK 88, ketika mereka sedang beristirahat di Masjid Bongas Sindang Raja, dan mayat-mayat mereka dibuang ke Kali Cisokan, demikian juga dari SP 88 gugur 6 orang.
Namun sejarah berbicara lain, pada bulan Agustus 1948, Koim tertangkap di Daerah Purwakarta, dan dibawa ke Kantor Polisi Cianjur. Setelah Koim tertangkap yang selalu dipimpin oleh Koim, diteruskan oleh Cece Gani, yang juga terus mengadakan serangan-serangan, diantaranya menyerang Marakas Belanda di Curug Ciranjang pada bulan September 1948 jam 11.00, kemudian pasukannya mundur ke Bojong Picung.
Pada akhir Perang Kemerdekaan awal tahun 1950, Koim dibebskan oleh Belanda, namun pada tahun itu juga dia ditembak oleh seseorang bersenjata tak dikenal, dikarenakan sejak tahun 1949 semakin jelas terlihat mana yang memihak RI dan NII. Berbeda dengan Cece gani yang akhirnya masuk juga ke dalam TNI pada Januari 1950 dengan pangkat Kopral.
Mengenai hubungan antara Laskar Hizbullah Batalyon III Ciranjang dengan DI/TII diperkuat oleh pernyataan Pak Omek, sebagai berikut: (Wawancara, 2006)
Setelah ditandatanganinya Perjanjian Renville yang merugikan Indonesia, sebagian besar Laskar Hizbullah Ciranjang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta, tetapi bergabung dengan Laskar Hizbullah Priangan Pimpinan S.M. Kartosuwiryo untuk mempertahankan Jawa Barat. Begitupun dengan Bapak Mohammad Basyir tetap melanjutkan perlawanan terhadap Belanda bersama Ajengan Khoer Afandi Manon Jaya. Dan akhirnya saya (Bapak Omek) masuk ke dalam TII

Berdasarkan paparan di atas, dapat diambil garis besarnya, bahwa terdapat hubungan antara Laskar Hizbullah Batalyon III Ciranjang dengan DI/TII Pimpinan S.M. Kartosuwiryo. Dikarenakan Shampir sebagain besar laskar Hizbullah di Jawa Barat tidak ikut dalam berhijrah ke Yogyakarta. Tetapi tetap mempertahankan Jawa Barat di bawah Pimpinan S.M. Kartosuwiryo.
Hubungan antara Hizbullah Batalyon III Ciranjang dengan DI/TII diperkuat dengan ditangkap dan ditolaknya permohonan Mohammad Basyir menjadi anggota Veteran RI pada tahun 1964. alasan penolakan tersebut dikarenakan Mohammad Basyir itu sebagai Pimpinan “DI/TII” dan anti Nasakom. Meskipun akhirnya Mohammad Basyir, mantan Komandan Hizbullah Batalyon III Resimen IV Divisi I Jakarta diterima juga menjadi anggota Veteran RI atas bantuan dari mantan anak buahnya, yakni Mayor TNI Rd. Sulaeman, dengan nomor pokok Veteran 66.108/B yang ditandatangani oleh Menteri Urusan Veteran pada waktu itu Brigadir Jenderal Sambas Atmadinata tertanggal 31 Desember 1962.
-Wijaya, S.Pd

1 komentar: